Saturday, 17 November 2012

Drop For Up


"Manusia hanya bisa berencana dan berharap, tetapi Tuhan yang menentukan". Seperti itulah keadaan yang saya rasakan selama bulan oktober kemarin. Ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan harapan, rasanya miris sekali. Ditambah lagi kondisi kesehatan yang kurang baik, akibat padatnya rutinitas "khusus" yang saya sedang tanggung. Ketika semuanya teragenda dan ter-deadline secara bersamaan, saya harus memilih satu diantara keduanya. Yang saya pikirkan saat itu bukanlah lagi masalah prioritas. Ketika loyalitas dan profesionalitas dipertanyakan? Maka saya akan menjawab, saya akan cenderung memutuskan mana yang paling membutuhkan posisi saya saat itu, dimana kondisinya adalah wujud asli saya benar-benar dibutuhkan saat itu juga. Bukan adil atau tidaknya saya yang harus dipermasalahkan. Menjanjikan 100% jiwa raga saya pada sesuatu, tentulah sudah saya janjikan sedari awal sampai dengan akhir masa jabatan saya. Pasti. Hanya saja saya memohon jangan samakan saya dengan yang lain. Karena cara saya menyelesaikan kerjaan dan permasalahan yang sedang dihadapi belum tentu sama dengan yang lain. Saya adalah saya, bukan kamu, dia, atau mereka.

"I will respect those who respect me and forget those who forget me".. seems like "I don't care them who careless of me."

Seminggu pertama ketika kondisi kesehatan drop, saya benar-benar merasa DROP and benar-benar DROP baik fisik maupun mental saya. Were you getting crazy?? Entahlah.. rasanya saya benar-benar muak dengan orang- orang yang berusaha untuk pura-pura tidak peka terhadap kesehatan saya saat itu. Antara tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Situasi dan kondisi seperti ini berpengaruh dengan kinerja saya. Tidak bersemangat dan lumayan membuat berantakan, tidak sesuai dengan my expectation. Sampai akhirnya, saya benar-benar sudah berada di titik maksimal, tidak lagi memikirkan kesehatan dan pemikiran orang-orang. Satu hal yang tersimpulkan di otak saya adalah "abaikan pemikiran orang-orang yang tidak mempedulikanmu, toh mereka cuma bisa melihat diri kita dari luar. Mereka ngga tahu dengan jelas kondisi kita seperti apa saat ini. Daripada semakin drop karena memikirkan penilaian orang yang seenaknya menilaimu, lebih baik pikirkan kesehatanmu saat ini. Karena masih ada orang lain yang menunggu dan menghargai kehadiranmu."
Dua minggu kemudian, kondisi saya sudah mulai berangsur membaik walaupun sesekali saya harus membaringkan tubuh saya beberapa menit karena cukup lama duduk/berdiri tegak dan suara saya masih terdengar parau. Di minggu kedua saya sakit, doa saya hanyalah kesehatan saya kembali. Saya rindu bergerak kesana-kemari, rindu teriak-teriak karena saya bukan tergolong orang pendiam (Asik!).  Tiga minggu, saya baru benar-benar merasa kembali sehat. Suara pun sudah mulai kembali normal. Kondisi mental saya juga kembali "up.. up.. up". Berusaha mengontrol emosi kembali, karena ketika kondisi saya kurang baik, emosi saya pun kurang terkontrol dengan baik. Sensitif dan mudah terpancing, akibatnya ngomel-ngomel, ndumel, dan akhirnya kalau ngga sanggup.. bleber sendiri. Sesungguhnya, kondisi saya yang semakin nge-drop itu dikarenakan mental saya yang juga mengalami penurunan.
Syukur alhamdulillah Ya Allah akhirnya saya sehat kembali, tepat memasuki bulan baru yaitu november. Kembali tidak mempedulikan orang-orang yang tidak mempedulikanku. Kejadian ini sebenarnya tidak hanya terjadi kali ini saja, sebelumnya saya pun pernah mengalami ini. Drop kemudian up lagi. Anggap saja itu roda dan dinamika kehidupan yang harus saya lewati. Kalau saya tidak mengalami hal tersebut, hidup saya akan flat. Selamat datang dunia!

No comments:

Post a Comment