"Manusia hanya bisa
berencana dan berharap, tetapi Tuhan yang menentukan". Seperti itulah keadaan yang saya rasakan selama bulan
oktober kemarin. Ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan harapan,
rasanya miris sekali. Ditambah lagi kondisi kesehatan yang kurang baik, akibat
padatnya rutinitas "khusus" yang saya sedang tanggung. Ketika
semuanya teragenda dan ter-deadline secara bersamaan, saya harus
memilih satu diantara keduanya. Yang saya pikirkan saat itu bukanlah lagi
masalah prioritas. Ketika loyalitas dan profesionalitas dipertanyakan? Maka
saya akan menjawab, saya akan cenderung memutuskan mana yang paling membutuhkan
posisi saya saat itu, dimana kondisinya adalah wujud asli saya benar-benar
dibutuhkan saat itu juga. Bukan adil atau tidaknya saya yang harus
dipermasalahkan. Menjanjikan 100% jiwa raga saya pada sesuatu,
tentulah sudah saya janjikan sedari awal sampai dengan akhir masa jabatan saya.
Pasti. Hanya saja saya memohon jangan samakan saya dengan yang lain. Karena
cara saya menyelesaikan kerjaan dan permasalahan yang sedang dihadapi belum
tentu sama dengan yang lain. Saya adalah saya, bukan kamu, dia, atau mereka.
"I will respect those who respect me and forget those
who forget me".. seems like "I don't care them who careless of
me."
Seminggu pertama
ketika kondisi kesehatan drop, saya benar-benar merasa DROP and benar-benar
DROP baik fisik maupun mental saya. Were you getting crazy?? Entahlah.. rasanya
saya benar-benar muak dengan orang- orang yang berusaha untuk pura-pura tidak
peka terhadap kesehatan saya saat itu. Antara tidak tahu atau pura-pura tidak
tahu. Situasi dan kondisi seperti ini berpengaruh dengan kinerja saya. Tidak
bersemangat dan lumayan membuat berantakan, tidak sesuai dengan my expectation. Sampai
akhirnya, saya benar-benar sudah berada di titik maksimal, tidak lagi
memikirkan kesehatan dan pemikiran orang-orang. Satu hal yang tersimpulkan di
otak saya adalah "abaikan pemikiran orang-orang yang tidak mempedulikanmu,
toh mereka cuma bisa melihat diri kita dari luar. Mereka ngga tahu dengan jelas
kondisi kita seperti apa saat ini. Daripada semakin drop karena memikirkan
penilaian orang yang seenaknya menilaimu, lebih baik pikirkan kesehatanmu saat
ini. Karena masih ada orang lain yang menunggu dan menghargai kehadiranmu."
Dua minggu kemudian, kondisi saya sudah mulai berangsur
membaik walaupun sesekali saya harus membaringkan tubuh saya beberapa menit
karena cukup lama duduk/berdiri tegak dan suara saya masih terdengar
parau. Di minggu kedua saya sakit, doa saya hanyalah kesehatan saya
kembali. Saya rindu bergerak kesana-kemari, rindu teriak-teriak karena saya
bukan tergolong orang pendiam (Asik!). Tiga minggu, saya baru benar-benar
merasa kembali sehat. Suara pun sudah mulai kembali normal. Kondisi mental saya
juga kembali "up.. up.. up". Berusaha mengontrol emosi kembali,
karena ketika kondisi saya kurang baik, emosi saya pun kurang terkontrol dengan
baik. Sensitif dan mudah terpancing, akibatnya ngomel-ngomel, ndumel, dan
akhirnya kalau ngga sanggup.. bleber sendiri. Sesungguhnya, kondisi saya yang
semakin nge-drop itu dikarenakan mental saya yang juga mengalami penurunan.
Syukur alhamdulillah Ya Allah akhirnya saya sehat kembali,
tepat memasuki bulan baru yaitu november. Kembali tidak mempedulikan
orang-orang yang tidak mempedulikanku. Kejadian ini sebenarnya tidak hanya
terjadi kali ini saja, sebelumnya saya pun pernah mengalami ini. Drop kemudian
up lagi. Anggap saja itu roda dan dinamika kehidupan yang harus saya lewati.
Kalau saya tidak mengalami hal tersebut, hidup saya akan flat. Selamat datang dunia!
No comments:
Post a Comment