Sunday, 16 September 2012

Terima kasih

Mari ucapkan terima kasih kepada si kawan yang beberapa hari yang lalu sudah memutar jalan saya kearah lain. Tararengkyu! Pengertian sekali si kawan. Saya sama sekali tak menyadari keberadaanmu saat itu. Maklum saat itu saya sedang sibuk dengan hidung saya yang sedang bermasalah (re: pilek). Duh kenapa harus bertemu disaat kondisi saya sedang tidak baik. Tolong! Sayangnya, kemana pun saya mencoba berlari dan bersembunyi tetap akan bertemu lagi denganmu. Sampai akhirnya moment "melegakan" itu datang. Kamu sedang mempersiapkan moment itu, sepertinya. Saya hanya dapat mendoakanmu dari sini. Semoga sukses! Kurang-kurangi main game onlinenya kalau mau cepet kelar. Mungkin akan ada waktu yang mempertemukan kita kembali. Satu hal yang saya harapkan adalah bersikaplah apa adanya. Biasa saja. Karena saya sudah menganggap semua itu hanyalah kenangan yang memang patut saya kenang. Keputusan untuk kembali memulai cerita sepertinya masih jauh dari list saya, karena banyak deadline yang harus saya selesaikan. Sendiri sepertinya lebih baik sekarang. Tidak untukmu. Tidak juga untuk dirinya. Bisa jadi saat ini saya berikan segala perhatian saya untuk... Ada deh :p Siapapun itu yang masih baik, sayang, dan perhatian dengan saya. Yang jelas saya merasakan siapa yang benar-benar menyayangi saya. Hayoooo... mulai mikir deh siapa orangnya! Hahahaha kaya infotainment aja lu, kasian! Saya hanya ingin memiliki silahturahmi yang baik dengan orang-orang di kehidupan saya. Ingat itu baik-baik. Jangan terlalu cepat berekspektasi atau menyimpulkan bahwa saya ada perasaan atau memberikan perasaan. Aaahh... coba di filter lagi otak sama hatinya. Apakah perhatian yang Anda peroleh itu lebih dari orang yang saya sayangi? Think smart, dude! Anda-anda-anda sekalian tidak mengetahui isi hati saya kok yo gampang banget menyimpulkan segala sesuatunya dengan mudah. Dan tolong jangan membuat keadaan menjadi gerah. Getting annoyed! Intinya sih biarkan saya sibuk pada rutinas saya saat ini. Jangan memperlambatkan langkah saya dalam menyelesaikan target yang sudah saya rancang. Just support me! Enough.
Selanjutnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada makhluk-makhluk yang sudah membawa saya ke tempat-tempat yang selama ini saya inginkan. Sayang, saya belum sempat mendokumentasikan tempat-tempat tersebut. Haaahhh... rasanya fresh sekali setelah sekian lama saya tidak melihat hamparan bukit, sejuknya udara puncak, dinginnya malam di sela ruang kosong bumi, indahnya pemandangan gunung dari jarak dekat, suara gemericik air sungai, dan suara binatang malam yang menjadi pengantar musik menuju alam mimpi. Terima kasih. Terima kasih sudah membawa diri saya ke tempat itu. Subhanallah atas keindahan Sang  Pencipta. Ngga tau lagi harus menyusun huruf-huruf ini seperti apa. Rasanya... LEGAAAAAA BANGEEETTT!!! Ngga pernah terbayangkan selama hidup saya akan mendatangi tempat-temat seperti itu. Saya pikir tempat seperti itu hanya ada dalam imajinasi saya ketika sedang membaca buku. Ternyata... Subhanallah saya terharu. Bahagia itu memang sederhana. Hanya butuh sedikit pemahaman untuk mengetahui clue kebahagian seseorang.
Tersadar bahwa bumi kita memang kaya akan oksigen. Sayang kurang terawat. Sedih rasanya melihat beberapa bukit yang tak lagi tertutupi hijaunya pepohonan. Sepanjang perjalanan saya melewati petak-petak tanah yang tertanam pohon tembakau, cengkeh, dan kol bunga. Hal yang menggelitik hati saya dan berpikir bahwa petaninya memiliki sense of romantic adalah di sela-sela tanaman tersebut mereka menyelipkan beberapa bibit bunga mawar. Menempuh kiloan meter jalanan berkelok. Bagian belakang lumayan agak pedes, cuma semua itu terbayarkan dengan indahnya pemandangan yang saya dapatkan. Tak pernah juga saya bayangkan bahwa saya berada ditengah tanggul sebesar itu. Tanggul tersebut sedang dalam masa pembangunan, sepertinya sedang vaccum. Bermain di aliran sungai yang bening dan segar. Dan saya kembali bisa berbaring beratapkan langit malam yang menebarkan banyak bintang. Perapian sedikit menyembunyikan dinginnya udara malam, namun dinginnya malam tetap masih menyentuh kulit perlahan-lahan walau saya mengenakan dua lapis pakaian, dua jaket, sarung tangan, kaos kaki, dan sleeping bed. Saya menikmati suasana tersebut. Diam dan menikmati malam. Terima kasih.

No comments:

Post a Comment