Kamu pergi setelah kamu mendengar namanya memasuki kehidupanku. Tanpa bertanya dan meninggalkan sebaris kalimat sehingga mengesankan bahwa akulah yang berengsek. Waktu tak memberiku kesempatan untuk menyelesaikannya. Dan aku pun terlalu naif untuk memulai pembicaraan. Tak ada komunikasi yang berlangsung diantara kita, meski jarak, ruang, dan waktu masih mempertemukan raga kita. Layaknya kaca putih tinggi membatasi diri diantara kita berdua. Berjarak dua meter, kita masih bisa saling melihat tawa masing-masing. Tawa yang tak searah. Ada usaha dalam menahan diri masing-masing untuk saling tidak memperdulikan. Pengabaian itu pada awalnya aku nikmati. Karena ketika itu kamu menganggap dirinya masih ada di lembar ceritaku. Aku tak ingin menjelaskannya, karena pada saat itu pun kamu sudah bersama dengan pilihanmu. Aku turut bahagia melihatmu yang akhirnya juga memilihnya. Masih teringat dengan jelas pernyataan yang pernah kau ucapkan padaku. "Aku serius sayang sama kamu. Aku care sama kamu, karena aku cinta kamu."
Ketika itu kita berdua sedang dalam perdebatan mengenai arti kata cinta dan sayang. Kita tidak berada dalam satu frame yang sama. Kenapa harus menunggu mencinta dahulu untuk caring each other? Pikirku saat itu. Aku pikir memang perdebatan adalah rutinitas kita yang hanya bisa terhenti tidak lebih dari satu jam. After that? We fought again. Tapi aku merindukan moment tersebut, kini. Waktu sudah terlewati selama 365 hari. Selama itu kuabaikan hatiku. Tidak denganmu, tidak juga dengannya. Aku pun tak mencantumkan nama baru kedalam lembaran kisahku. Kosong. Namun tak ada kesepian yang kurasa. Aku begitu menikmati waktu dan rutinitasku dari pagi cerah hingga pagi buta bersama mereka, yang menentang hubungan ini. Aku sibuk dengan duniaku, begitu juga dengan dirimu. Kemana dia? Bukankah sudah pernah kukatakan bahwa aku tidak menuliskan namanya di lembaran ceritaku. Karena aku tau nama siapa yang seharusnya kutulis. Dia memang sosok yang aku harapkan selama ini. Mereka membodoh-bodohiku karena aku memintanya untuk pergi. Aku tidak bisa membohongi perasaanku, bahwa ketika itu bukan sosoknya lah yang kuinginkan. Bahkan untuk melangkah berdua dengannya pun, aku harus berpikir lebih dari dua bulan. Hingga akhirnya aku mencurahkan ketidaknyamanan akan diriku terhadapnya. Bukan maksudku bahwa dia tidak membuatku nyaman, hanya saja setiap kali aku bersamanya, ada hal yang sering kali mengingatkanku akan dirimu. Kamu dan dia itu bertolak belakang. Seperti ada cermin diantara punggung kalian. Aku juga tidak tahu apakah diantara kamu dan dia ada komunikasi atau tidak, karena hingga detik ini aku belum pernah melihat kalian berbicara satu sama lain. Sepertinya kalian tidak begitu saling mengenal satu sama lain. Terlebih dengan dirinya yang tidak tahu mengenai cerita dan kisah antara aku dan kamu. Dalam hal ini memang akulah yang mengemudikan cerita. Tetapi, tetap pembuat skenario dan takdir diantara aku, kamu dan dia adalah Sang Sutradara.
Aku belum tahu, naskah seperti apa lagi yang akan aku mainkan untuk episode selanjutnya. Aku hanya berharap sebagai pemain, aku bisa kembali memainkan naskah-Nya bersamamu. Jika memang kamu lah pemain terbaik yang Sutradara kirimkan untukku. Aku pun memiliki naskah yang sudah kubuat dengan indahnya, namun entahlah apakah Sang Sutradara meng-acc naskah tersebut. Yang aku tau sekarang adalah aku dan kamu sedang menikmati waktu dengan jiwanya masing-masing. Aku tak tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini. Yang aku tau, masing-masing dari kita punya mimpi dan target yang harus dicapai. Aku sedang melihat usahamu dalam mencapai target tersebut. Apapun yang kau rencanakan dan lakukan saat ini, aku akan mendukungmu. Suddenly, aku teringat juga perkataan salah satu kawanku. Dia mengatakan bahwa ketika kamu bersamaku, dikit demi sedikit pribadimu berubah menjadi lebih friendly. Sayangnya, bersamaan dengan perginya masing-masing perasaan kita, mereka tak lagi melihat pribadimu yang satu itu. Tidak bisakah kau kembali menjadi pribadi sepert itu?
No comments:
Post a Comment