Wednesday, 13 February 2013

Puzzle

Malam ini aku diserang rindu bertubi-tubi. Bibirku tersenyum simpul dan anganku sedang melayang maju-mundur mengulang kembali apa yang telah terjadi diantara kita sejak sepuluh jam yang lalu. Benak dan pikiranku berbincang. Aku seperti sedang menonton pertunjukan klasik dilayar pikirku, memutar kembali kenangan yang terekam di memori ingatanku. Perasaan yang sempat kutepis, kebali terisi. Aliran darahku mengalir ke segala saraf, memancing jantungku untuk berdetak. Semenjak saat itu, bayangmu menghantuiku. Memoriku sedang asik bermain 'puzzle kenangan'. Mengambil satu persatu kepingan akan tentang "kita".



Diantara kebencian-kebencian itu, cintamu mampu meluluhkan hatiku. Aku menutup telingaku akan segala penjelasan yang kau berikan. Dan lagi-lagi untuk kesekian kalinya aku terlalu mempercayai lingkunganku. Tahukah kau bahwa mereka tak merestui hubungan kita? Rasanya ada sesuatu yang mengganjal untukku ketika orang-orang yang aku sayang dan percaya tak mendukungku. Aku benci keadaan itu. Apa yang salah tentangnya? Aku memang terlalu munafik mengabaikan perasaan ini. Aku selalu memikirkan perasaan oranglain tanpa memikirkan kebahagiaanku sendiri. Aku merindukanmu. Aku terbawa kedalam emosi kerinduan mendalam. Perasaan yang sering kali kutampik dan berakhir dengan rasa sesal dan penasaran. Mungkinkah ini hanya penasaran cinta seperti ungkapan bait-bait lagu maliq? Entahlah. Hatiku benar-benar sedang dibolak-balikan.
Segala sesuatu tentangmu terarah padaku. Kata 'seandainya' menjadi trending topic di hatiku. Penyesalan selalu berada di akhir cerita. Waktu sedang mempermainkan kita, lebih tepatnya aku. Waktu masih belum mengijinkan kita berdua untuk duduk berhadapan dan membicarakan sesuatu yang belum terselesaikan bahkan terucap dari bibir. Akankah waktu mengijinkan kita untuk menyelesaikan penasaran ini? Salahku karena aku tak pernah berani untuk memulainya lagi. Aku akan tetap berada ditempat ini jika kamu mau menyelesaikannya. Kepingan yang masih tersembunyi diantara kita, akan tetap menjadi misteri hati.


Ijinkan aku mengucap sesuatu sebelum terlelap dengan tenang meski harus berselimut kerinduan akan dirimu. Sampaikan dan bisikkan padanya wahai angin malam, "Aku merindukanmu malam ini. Benar-benar merindukanmu".


You should know that i really miss you so badly

No comments:

Post a Comment