Friday, 3 August 2012

Aku. Kamu. Dia.

Dia adalah orang setelah kamu. Hadir di kehidupanku secara tiba-tiba tanpa mengucap salam kepadamu. Hadir ketika kondisi kita berdua sedang tidak harmonis. Perdebatan antara kita berdua di tiap malam tak kunjung berakhir, memang selalu ada topik yang diperdebatkan. Aku sadar, aku keras kepala. Begitu juga dengan dirimu. Walaupun diakhir selalu ada yang mengalah diantara kita kemudian meminta maaf. Aku menyukai moment itu, rasanya begitu damai. Berusaha saling mengoreksi satu sama lain. Berusaha mencoba untuk menerima kekurangan masing-masing. Aku suka ketika membangunkanmu di pagi hari untuk menyegerakanmu solat kemudian mendengar suara paraumu yang masih setengah sadar karena tersangkut di alam mimpi. Lucu. Aku suka ketika kau mulai menatapku walau mataku dengan reflek menghindarimu. Aku suka ketika kau memintaku untuk menjadikanmu orang pertama ketika aku membutuhkan pertolongan atau terjadi sesuatu. Aku suka ketika kita solat bersama. Aku suka ketika aku mencium tanganmu ketika berpisah. Aku suka perhatianmu padaku, meski terkadang aku menolak perhatianmu. Jarak ini kujaga untuk meredamkan lingkungan yang berusaha menghalangimu. Sejenak. Aku hanya butuh waktu sejenak untuk memberi pengertian pada lingkungan. Sayang, justru kamu yang tidak mengerti. Kamu lelah akan tingkahku. Aku tidak sedang bermain layang-layang. Aku hanya sedang memperbaiki benangnya untuk kutarik kembali agar terhenti.
Jangan ajak aku untuk berdebat masalah cinta, sayang, dan suka. Aku sudah pernah memperdebatkan ketiga kata ini. Dulu. Dan sekarang aku akan tetap dengan jawabanku. Sayang. Menurutku ketiga kata itu memiliki arti atau makna yang berbeda berdasarkan tingkat perasaan. Aku suka kamu. Jelas aku menyukaimu. Jika aku tidak menyukaimu, itu artinya kamu adalah musuhku. Aku suka kamu. Caramu memperhatikan dan memberi perhatian kepadaku. Caramu menghargai dan menghormatiku sebagai wanita muslim. Caramu memaksaku untuk mengikuti keinginanmu. Caramu mengalah karena sifat keras kepalaku. Caramu tertawa ketika aku sedang memarahimu. Aku menanti kabarmu, tetapi aku tetap terdiam tidak mencarimu. Dan kau meminta jawabanku ketika kau katakan, "Aku sayang kamu. Aku cinta kamu."
Aku sayang kamu. Ketika aku mulai mengkhawatirkanmu saat aku tahu sedang terjadi sesuatu denganmu, lebih dari kalimat aku suka kamu. Aku sayang kamu. Ketika aku berusaha mencarimu, bukan hanya terdiam menunggu kabarmu. Aku sayang kamu. Ketika kamu berhasil membuatku nyaman meletakkan kepalaku untuk bercerita, menangis, bahkan tertidur di bahumu. Aku sayang kamu. Ketika aku sadar bahwa kamu akan ada dibarisan paling depan untuk melindungiku. Aku sayang kamu. Ketika akulah orang pertama yang kamu cari dan ceritakan akan seluruh kisah kehidupanmu. Dan.. begitu pun sebaliknya.
Aku cinta kamu. Sulit sekali mengucapkan tiga kata ini. Orang pertamaku pun belum sempat kukatakan kalimat ini. Menyesal? Tidak. At least perpisahan kami di akhiri dengan kalimat yang meyakinkan bahwa kita masih saling menyayangi. Hanya saja status ini kurang baik untuk kita dan lingkungan. Jangan kata ini yang kuucap, mengatakan aku sayang kamu rasanya masih belum bisa. Just wait a moment. Pasti akan aku nyatakan kalimat ini ketika aku yakin hati, pikiran, serta logikaku sama-sama mengatakan... this guy! Dont play with this story.
Percakapan antara kita terus berlanjut. Kamu tetap meyakinkanku bahwa cerita masa lalu adalah masa lalu. Aku pun meyakinkanmu bahwa bukan cerita masa lalu yang sedang kita aku permasalahkan. Tetapi, keyakinanku atas kenyamanan yang aku rasakan selama ini. Aku masih terganggu atas tatapan, sindiran, serta ocehan-ocehan orang baik didepan maupun belakang kita. Beberapa detik aku tak bersuara, berusaha meyakinkan hati, pikiran, dan logikaku. Dan sebelum percakapan kita berakhir malam itu, kalimat terakhirku adalah.. "Aku suka kamu."
Kalimat itu sudah cukup meyakinkan mengenai kelanjutan cerita kita akan seperti apa jadinya. Kamu berusaha kembali meyakinkanku bahwa penantian dan pembuktian itu masih akan ada, hanya saja kamu tidak menjanjikan bahwa nanti sedikit demi sedikit dirimu akan mengalami perubahan sikap terhadapku. Entah apakah itu akan membuat aku dan dirimu semakin dekat ataukah justru membuatmu menghilang dari kehidupanku. Aku mengabaikan ancaman ucapanmu itu. Justru itu sebagai bukti sampai dimana kamu membuktikan kata-katamu dulu. Waktu di jam yang kumiliki terus berputar. Detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan. Tersadar, perlahan aku mulai menjauh. Bukan salahmu. Aku menjauh karena aku ingin tahu. Kamu tetap melangkah mundur walau sesekali kembali maju beberapa langkah hanya untuk menyelipkan setangkai bunga atau kalimat rindu untukku. Aku tetap suka kamu.
Hingga tanpa kamu sadari, langkah mundurmu itu memberikan space untuk orang lain menempatinya. Itu haknya mendapat kesempatan untuk berdiri dihadapanku dan memintaku untuk memberikan ruang dihatiku. Dia hadir ketika aku dan kamu saling melangkah mundur. Dia hadir di kehidupanku ketika aku tak mengenali lagi sosokmu. Diam dihadapanku, hanya menatap kemudian pergi. Secepat itukah aku memberi kesempatan? Mungkin itu yang kamu atau orang lain pikirkan. But dont ever think like that because i didn't it. Membandingkanmu dengannya... kontras. Dia memiliki sifat dan sikap yang bertolak belakang denganmu. Mendatangiku tanpa rayuan atau gombalan seperti yang biasa kamu lakukan. Mungkin bukan hanya untukku saja rangkaian kata-kata indah yang kamu berikan. Aku malas mencurigai orang karena itu akan melelahkan diriki sendiri. Dia berdiri dihadapanku. Menatap mataku seraya sedang berucap. Aku tanya, ia hanya tersenyum simpul dan penuh makna. Langkah kembali maju dan semakin dekat, hanya beberapa senti dihadapanku. Aku terkejut. Mencoba mengalihkan arah pandangan dan tubuhku. Ia menahanku kemudian mengutarakan keinginannya agar aku bersedia meluangkan waktu utntuk pergi bersamanya satu hari untuk lebih mengenalku. Sekali lagi aku terkejut akan tingkahnya. Geli jika kembali mengingat moment itu. Tawaku tertahan karena aku terlanjur tersipu malu. Aku belum pernah bertemu "seseorang" yang seperti ini, quiet but frontal...but i know that's who you are. No need many words but more action to show your feeling. Word Less Action More. Kisahku selalu rapi didalam kertas. Oleh karena itu kamu tidak mengetahuinya. Komunikasi yang kurang intens dan perdebatan kita semakin menjaga jarak kita. Sampai akhirnya waktu membuka buku ceritaku. Dihadapanmu mereka meyakinkanku atas keseriusannya dan meminta jawabanku. ketika itu kita sedang bertengkar dan mendengar hal itu kamu hanya terdiam menatap kearah lain. Beberapa menit kemudian kamu berpamitan pergi mendahuluiku sebelum acara berakhir. Sejak hari itu kita dapat menyimpulkan sendiri sampai dimana cerita kita. Aku malas menjelaskan kisah yang sebenarnya kepadamu karena bagiku itu hanya akan memperpanjang masalah kita yang lalu. Lagipula sikap diam yang kau tunjukkan meyakinkanku untuk melangkah pergi.
Aku dingin terhadapnya. Itulah kalimat yang sering ia ucapkan kepadaku. Senyumku tersimpul setiap kali ia bertanya atau mengatakan hal tersebut. Bukan maksudku untuk bersikap dingin, hanya saja aku sedikit dulu untuk menjaga jarak. Dia adalah orang baru dalam kehidupanku. Aku belum mengenal baik dirinya. Hampir dua bulan ia menunggu jawabanku atas ajakannya untuk pergi bersama. Salut! Setiap ada waktu luang ia sempatkan untuk bertemu denganku walau hanya sekedar melihat wajahku kemudian menatap, tersenyum, dan tertawa ketika ia melihat celotehanku yang ceplas-ceplos. Entah apa yang ada dipikirannya. Terkadang selama kami duduk bersama menikmati waktu, ia betah untuk tak berkata-kata. Aku tanya, ia hanya menatapku. Kulempar pandanganku, ia justru tertawa melihatku yang salah tingkah. Sejujurnya aku selalu bingung kepadanya. Bingung kata-kata apa yang akan kuucap, tanya, dan jawab. Ketika aku bingung mencari topik pembicaraan, ketika itu pula aku merindukanmu. Begitu banyak topik yang kita bahas bahkan sampai diperdebatkan. Dengannya, aku benar-benar wordless. Padahal ada 26 huruf abjad yang biasa kususun secara acak. Namun dengannya huruf-huruf tersebut seakan sedang bermain petak umpat.
Sahabat-sahabatku menghampiriku. Kami duduk bertiga. Selalu ada moment share each other ketika sedang bersama. Kalimat yang membekas dan kujadikan pelajaran adalah "Jangan bermain dengan pria. Kalau hatimu bilang tidak, katakan tidak. Jangan berikan waktu untuk menunggu tetapi di akhir cerita jawabannya tetap tidak. Itu yang mereka maksud dengan harapan palsu. Tetapi kalau kamu memintanya untuk menunggu, pastikan bahwa jawabanmu adalah jawaban yang dia harapkan selama ini". Terdengar dewasa dan mendalam. Aku benar-benar melakukan hal itu. Moment dimana akhirnya aku memberanikan diri untuk menjawab ajakannya dari beberapa bulan lalu.
I can't
Why?
I dunno. Just need more time for makin myself comfortable when i'm with you :)
Just it?
Yap
It's oke. I'll be waiting for the comfortable moment
Percakapan kami dilatari dengan langit yang mulai memamerkan cahaya senjanya. Kicau burung yang beterbangan dan seruan anak-anak kecil yang sedang bekejar-kejaran disekitar kami menjadi backsound dalam percapakan sore itu. Ia berpamitan untuk pulang. Aku canggung dan tak berani untuk menoleh kearahnya. Hanya sesaat ketika ia mengucap salam beranjak pulang. Tatapannya masih memohon. Tetapi aku tak ingin memberinya banyak harapan karena aku pun tak berani untuk menjanjikan jawaban yang pasti. Aku, kamu, dan dia memiliki buku sendiri untuk mencoretkan kisah hidup kita. Walau terkadang ia masih memintaku untuk menyusun huruf abjad didalam buku yang aku miliki. Terima kasih karena kamu dan dia telah mengisi album kenangan kehidupanku. Who knows... suatu hari nanti pasti aku akan mengatakan ketiga kalimat ini kepadamu, MY MATE.
Aku Suka Kamu
Aku Sayang Kamu
Aku Cinta Kamu





See you..
M♥ys

No comments:

Post a Comment