Wednesday, 15 May 2013

Aku. Kamu. Dia. #Part 3

Maaf atas perubahan sikapku. Sesungguhnya ini berat untukku, jika kamu ingin tahu. Bukan inginku dan juga bukan mau ku. Aku pun tidak ingin menyalahkan dirinya. Namun aku tak ingin memunafikkan diri sendiri dan membohongi keadaan bahwa tanpa campur tangannya mungkin hal ini tidak akan terjadi. Sakit, memang. Menangis, rasanya dada ini terlalu sesak hingga tak sanggup lagi memecahkan konsentrasi pada indra lain dan membiarkannya mengeluarkan cairan yang disebut air mata. Kamu. Benar, kamu yang aku maksud. Bukankah kamu sudah menyadari keadaan ini. Aku sudah pernah melewati kondisi seperti ini sebelumnya, dahulu. Dan ketika Tuhan mengujiku pada kondisi yang sama lagi, aku tetap sulit menolak ujian-Nya. Sepertinya Tuhan sedang mengujiku seperti apakah keputusan-keputusan yang aku ambil, apakah aku benar-benar sudah melewati fase kedewasaan dalam berpikir dan bertindak? Aku tidak berhak menjawabnya. Mereka yang melihatku dan mengetahui keputusan serta tindakan apa yang aku ambil. Aku ingin berteriak kepada mereka yang hanya bisa memandangku dari kejauhan, kemudian menyimpulkan sendiri seperti apa diriku ini. Aku ingin berteriak dan bertanya kepada mereka, apa salahku? Aku tidak melakukan apa-apa. Aku diberikan radar yang kuat oleh-Nya, strong feeling. Aku hanya ingin tetap menjadi diriku sendiri. Jika aku adalah devil, aku akan tetap mensyukurinya. Karena doaku akan tetap sama, jangan biarkan aku memunafikkan diriku sendiri dan orang lain.
Maaf. Aku sudah lelah. Aku lelah dengan kondisi dimana aku seperti seorang terdakwa yang terkena pasal praduga tak bersalah. Bukankah aku hanya orang luar dalam kisah ini? Kenapa aku harus terbawa? Aku hanya orang luar yang tidak tahu apa yang sedang terjadi. No one told me, including you. Hanya karena aku selalu berada disamping dirimu, kemudian mereka mengangkat telunjuknya dari belakang kearahku. Apakah aku sudah melewati batas? Katakan apa yang ingin dikatakan. Tanyakan apa yang ingin ditanyakan. Aku benci ruang bisu ini. Berhentilah berpura-pura bahwa keadaan aku, kamu, dan dia baik-baik saja. Aku tidak merasakan itu. Lelah. Sungguh aku merasa lelah. Itu bukan urusanku, kenapa kalian harus melempar pertanyaan-pertanyaan ini kepadaku. Kalian salah alamat. Aku tidak bisa memainkan skenario kedua makhluk ciptaan Tuhan ini, aku tidak bisa. Aku lebih baik memilih mundur dari cerita ini karena aku bukan pemain handal. Aku juga bukan penonton sok tau yang hanya bisa berkomentar bodoh. Sebelum kamu menarikku kedalam pusaran cerita ini, aku telah memiliki cerita sendiri. Seandainya peran yang kamu main kan ini tidak terlalu didramatisirkan, mungkin cerita ini tetap berjalan normal. Aku mundur dari permainan kisah ini bukan karena aku kalah, karena aku tidak menganggapnya sebagai suatu permainan. Aku mundur karena ketidaktahuan dan ketidakpahaman diriku akan keadaan yang sebenarnya. Sudut pandang dan prinsip yang berbeda-beda yang mungkin melatarbelakangi kisah ini. Perbedaan prinsip dalam hidup bukankah sudah menjadi hal yang lumrah. Sedari kita berseragam putih merah, kita sudah diberikan pelajaran mengenai tenggang rasa, toleransi, dan saling menghargai kan. Aku berusaha untuk tetap menghargai prinsip setiap orang, selama orang lain juga menghargai prinsipku. Jika menurutmu salah, yasudah. Namun aku tetap beranggapan bahwa prinsipku juga tidak salah dan masih bisa diterima selama tidak melewati rules yang telah ada. Kenapa aku harus disalahkan? Jalani prinsip masing-masing tanpa harus saling menyalahkan orang lain, bukankah itu lebih indah. Pertegas prinsip yang kamu pahami, jangan hanya dijadikan teori indah.
Aku melepaskanmu bukan karena mau - tak mau. Hingga detik ini dan mengapa aku membiarkanmu pergi dalam sebuah tanda tanya, karena aku menghargai prinsipnya. Ada hati yang juga harus kujaga. Mungkin dia tidak tahu bahwa ketika aku memutuskan untuk pelan-pelan pergi dari kehidupanmu, tanpa sepengetahuannya kamu mencariku lagi-lagi-lagi. Ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, tapi sudah lebih dari itu. Beralaskan silahturahmi. Namun, bisakah dia menerima hal tersebut? Aku lelah harus memandangi wajah angel yang berselimut kemunafikan. Dan jangan pernah membawa teman-temanku dalam cerita ini. Jangankan mereka, aku pun sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dipermasalahkan. Aku sudah pernah mengalami kondisi seperti ini, dan sudah cukup untukku. Hidup bukan hanya perkara cinta. Ada hal lain yang harus aku pikirkan dan lakukan. Ini untukmu. Tidak, bukan dirimu. Tapi kamu, iya kamu. Dijaga, apa yang seharusnya dijaga. Jangan hanya melihat satu sisi, sudahkah kamu menelaah sisi-sisi yang lain? Jaga dia atau aku yang akan menjaganya.  Jangan bawa namaku (lagi) dalam kisah ini. Karena jika kamu tidak bisa menjaganya dengan baik, jangan salahkan aku jika skenario ini aku rubah sesuai dengan keinginanku.
Maafkan aku karena aku (masih) membisu akan kisah sebenarnya. Aku hanya ingin membiarkanmu menelaah dan mengerti sendiri kondisi ini, sehingga kamu akan menemukan jawaban yang mungkin sedang kamu cari. Aku belum menuliskan skenario, bahkan aku belum mengajukan proposal kepada-Nya. Aku hanya ingin membuktikan sisi kedewasaan yang selama ini kamu tuliskan dalam teori indahmu. Mungkin aku masih seperti anak kecil yang manja dan selalu bertingkah tidak menyenangkan ketika aku sedang terserang virus badmood. Namun, satu hal yang jelas kamu rasakan adalah dalam kondisi apapun aku berusaha meluangkan waktuku untuk bisa menjagamu, karena aku peduli. Aku benci melihatmu seperti orang bodoh yang tersiksa oleh prinsip dan teori-teori indah itu. Aku tidak menghalangi prinsipmu, silahkan jalani semua itu. Pesanku, aku hanya ingin melihatmu apa adanya. Kebijaksanaan seseorang akan muncul dari dalam dirinya tanpa harus melakukan pencintraan kepada khalayak umum. Untuk sementara ini, aku membiarkan diriku pergi. Jaga dirimu baik-baik. Sebagaimana pun kondisi aku, kamu, dan dia saat ini tidak akan bisa lagi kembali seperti semula. Tetap berbeda. Bahagiakan dirimu juga. Semoga kamu bahagia.

No comments:

Post a Comment