Saturday, 18 May 2013

Prinsip mana yang kamu pilih?

Sesekali egois ngga apa-apa, din!
Jangan terlalu positive thinking sama orang lain.
Jangan sampai lupa, kalau kamu juga perlu bikin diri kamu bahagia.

Ah teman macam apa kasih nasihat ngga ada sisi malaikatnya begini. Tapi entah kenapa saya melihat diri mereka sendiri ketika kalimat tersebut terucap. Apa yang mereka katakan, ada benarnya juga. Sayangnya sisi ke-ngga-enakan saya lebih mendominasi daripada sisi ketegaan saya. Tidak, jangan berpikiran bahwa saya sebegitu baiknya kepada orang-orang. Karena masih banyak hal dan sisi-sisi dari saya yang harus diperbaiki. Sebagai seorang muslim dan sedang belajar mengenakan penutup kepala untuk merahasiakan dahulu mahkota (rambut) yang saya miliki, saya masih berada jauh dari sisi wanita muslimah. Wajar ngga sih kalau udah umur 21 tahun tapi masih mencari jati diri? Pencarian jati diri itu memang ada batasnya ya? Satu hal yang pasti bahwa dengan saya memutuskan untuk berpenampilan seperti ini, saya tidak ingin merubah karakter saya. Stay true myself! 
Saya sadar betul bahwa kepribadian saya masih belum menunjukkan sebagai seorang wanita muslimah sejati. Tapi saya masih belum mau memaksakan diri saya untuk menjadi orang lain. Biarlah waktu yang membawa saya ke arah yang lebih-lebih-lebih baik lagi. Terkadang saya suka merasa belum pantas dengan penampilan saya seperti ini. Tapi di sisi lain, tepatnya hati saya sering kali meyakinkan bahwa keputusan yang saya ambil ini insha Allah tepat, toh setidaknya saya sudah mendekati kearah kebaikan. Saya masih minim banget tentang ilmu dan pengetahuan islam. Saya sedang belajar dan masih akan selalu belajar dan mencoba memahami serta mengikuti ajaran-Mu. Walaupun saya akui ada beberapa hal (prinsip) yang mungkin beberapa orang diluar sana sudah menganutnya dan sudah mempraktekakannya dengan baik. Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa pacaran itu dilarang. Saya akui dan amini. Semua kembali kepada hak dan prinsip masing-masing apakah ingin menjalankan hadist tersebut atau tidak. Ada yang beranggapan bahwa lebih baik ta'aruf biar aman dari dosa. Memang benar, pada intinya larangan tersebut ada untuk mencegah kita dari perbuatan dosa. Jujur saya sangat salut dengan orang yang berani memutuskan untuk berta'aruf, tapi ini memang ta'aruf yang sebenarnya loh. Karena saya pernah melihat sendiri ada kakak tingkat saya yang melakukan ta'aruf. Dia benar-benar tidak mengenal siapa orang yang akan dijodohkan untuknya. Ketika itu dia masih tingkat 3, berarti ketika berusia sepantaran saya. Masih muda, benar. Menurut cerita, dia diperkenalkan kepada seorang ustad oleh dosen agama saya di kampus. Sama sekali tidak mengenal siapa pria tersebut, kemudian diyakinkan oleh bapak dosen dan akhirnya she said yes. Ah ta'aruf itu bermodal nekat dan bismillah sepertinya.
Kalau mau dipraktekkan untuk diri saya, sejujurnya saya belum siap. Ta'aruf = Dijodohkan. Bahkan tingkatan ta'aruf itu lebih tinggi dibanding dengan dijodohkan. At least kalau dijodohkan sebelumnya kedua belah pihak dipertemukan dan diberikan skenario untuk menjalankan suatu peran untuk beberapa waktu yang cukup lumayan sehingga bisa saling mengenal dimana ide ceritanya akan berakhir sama-sama pada pelaminan. Tapi, ta'aruf dari yang saya ketahui (belum tentu benar loh) keduanya bertemu dengan tujuan langsung meminang. Tanpa diijinkan untuk jalan berdua dulu agar saling mengenal satu sama lain. Prinsip orang memang berbeda-beda. Apalagi di negara saya Indonesia ini menganut budaya demokrasi. Semua membawa "hak" nya dalam bersuara dan mengambil keputusan. Saya belum siap. Saya masih butuh waktu untuk mengenal seseorang yang saya pilih nanti. Saya tidak ingin menyesal karena telat mengenalnya. Ketika di postingan sebelumnya saya mengatakan bahwa saya sudah lelah kedatangan orang-orang yang silih berganti mewarnai hidup saya, benar saya lelah. Sudah masanya saya serius memilih seseorang. Tenang, saya tidak seserius itu. Jalani aja dengan apa adanya tanpa 'embel-embel' saling menuntut. Siapa sih yang ngga mau ada orang yang selalu ada disisinya? Saya juga mau banget. Udah lewat setahun hati saya dan bibir saya ngga cecengiran lagi karena seseorang. Semuanya serba numpang lewat buat saya.
Makanya, sampai detik ini saya masih fine-fine aja dengan prinsip pacaran. Selama saling menjaga, melindungi, dan menghormati. Why not? Siapa sih yang ngga mau merasakan bahagia karena di hidupnya ada seseorang yang berusaha melengkapi kekurangan kita? Bisa dikatakan munafik kalau ada yang ngga mengakui itu. Menganut prinsip ta'aruf tapi sana-sini oke. Memutuskan hubungan karena menghindari hal-hal yang dilarang, oke banget lah prinsipnya. Tapi kalau prosesnya ternyata masih ada pengekangan terhadap salah satu pihak ya podo wae sih kalau menurut saya. Menurut saya loh ya. Sedih aja lihatnya, sabar ya. Malah menimbulkan masalah baru. Iya-iya-engga-engga. Ah sudahlah ini hanya permasalahan perbedaan prinsip.
Kalau suatu hari nanti akan ada seseorang yang siap mendengarkan cerita-cerita saya, siap tiba-tiba diomelin ngga jelas karena PMS datang, siap dengerin ocehan dan jokes saya yang terkadang flat, siap kalau tiba-tiba saya kentut diluar syaraf sadar saya, siap mencium aroma kentut saya, siap kalu tiba-tiba saya sendawa sehabis makan, siap kasih pundak atau punggung atau dadanya ketika saya lelah atau siap terima baju yang dipakainya basah karena air mata saya, siap jadi pendengar dan pemberi masukan yang baik buat saya.  Siap dengerin mimpi-mimpi saya dan berusaha sama wujudin mimpi kita berdua. Siap ngga bosen buat mengingatkan saya untuk makan, solat, puasa, dan ngaji. Siap...... ah pokoknya saya bakal pertahanin kamu!
Dari semua kata siap itu saya juga berdoa bahwa saya juga bakalan siap melakukan apa yang saya paparkan diatas itu untuk kamu dan juga berdoa supaya saya bukan tergolong pasangan yang insecure-an. Kamu boleh main sama teman-teman mainmu, kamu boleh lebih pilih futsal atau olahraga kesukaanmu daripada cuma nemenin saya belanja (karena lebih suka pergi belanja sama temen cewek). Kebiasaan yang kamu lakukan sebelum bersama saya, saya coba usahakan agar tidak hilang. Karena mereka lebih dulu ada di kehidupanmu. Begitu juga untuk saya, jangan over melarang saya bermain dengan sahabat-sahabat saya. Selama kamu dan saya saling menjaga hati dan sikap, kenapa harus saling curiga? Kenapa harus menjauhkanmu dari teman-temanmu? Tenang, saya tipe orang yang juga memikirikan persetujuan lingkungan (sahabat, teman, keluarga) dahulu untuk memutuskan dengan siapa saya akan mengatakan saya siap untuk melengkapi hidupmu dengan segala kekurangan yang saya punya dan kamu harus siap juga.

Kamu?
Siapa?
Rahasia!
Karena kamu nya itu masih dirahasiakan oleh-Nya.


*Mengajukan proposal kepada Sang Sutradara ngga ada salahnya juga kok. Namanya juga doa, harus dibarengi dengan usaha juga.

Intinya dari ocehan orang-orang yang paling atas itu. Saya masih menghargai prinsip tiap orang masing-masing. Kapan saya membahagiakan diri saya? Ketika saya sudah berada disekitar orang-orang yang saya sayang. Kamu-kamu-kamu-kamu.

No comments:

Post a Comment