Rencana Tuhan siapa yang tau? Sama halnya seperti yang saya rasakan kemarin, siapa yang tau kalau sore hari (kemarin) saya akan menerima kabar buruk dari rumah. Padahal seharian di kampus, saya lagi seru-serunya sharing tentang politik kampus beserta problematikanya setelah saya ujian permodelan sistem yang super penuh dengan huruf-huruf di kertas lembar jawaban. Berencana untuk mengisi perut, baru selesai pesan makanan, received meassage from my brother's gf. She asked me, "Kak, akbar kecelakaan tah?". Ngga pake pikir panjang, saya langsung menelfon adik saya, tapi kenapa yang menjawab justru suara mama. Oke, udah bisa disimpulkan kalau ada yang ngga beres disana dan pastinya orang rumah ngga mau kasih kabar saya dulu karena tau anaknya yang disini sedang dalam masa ujian tengah semester. Mama cuma jawab kecelakaan ringan dan baik-baik aja, after that mama nangis. Tarik nafas dan saya nge-blank karena kepanikan saya sudah mulai hadir setelah mendengar mama menangis kemudian meminta saya untuk menutup telfon dulu. Saya nurut dan detik selanjutnya makanan datang, sayangnya ngga ada selera makan lagi. Semua saya telfon untuk memastikan bahwa kondisi adik saya benar-benar baik. Mama dalam keadaan panik, jadi sepertinya jangan saya lempar banyak pertanyaan dulu. Hal yang membuat saya masih dalam keadaan yang belum tenang adalah karena saya sempat berbicara dengan adik saya, dari sebrang sana terdengar suara yang tidak biasanya saya dengar.
"Hallo coooyy... iya ngga kenapa-kenapa ko.... cuma ada yang robek jadi harus dijahit ...makannya susah .... ngomong sama mama papa deh ya lagi susah ngomong...,"
Lalu telfon tersebut kembali ke mama lagi, dan lagi-lagi mama ngga mau cerita panjang lebar dulu karena takut nangis depan anaknya yang saya tangkap radarnya dari kejauhan sini, adik saya masih agak shock sama kecelakaan yang menimpanya, secara dia baru balik abis test psikotes di Pertamina. Sesampainya di kos, air mata saya udah ngga bisa lagi saya tahan karena saya panik. Saya panik dan belum bisa tenang. Saya menghubungi adik saya yang paling kecil, dia ada dirumah eyang karena dirumah udah ngga ada mbah yang biasanya jagain dia (saya kembali tersadar, bahwa mbah udah berada di dunia yang berbeda). Akhirnya saya menghubungi papa, kepanikan saya mulai menghilang setelah mendengar omongan papa. Bismillah, insya Allah adik saya baik-baik aja. Sekarang masih dalam pemulihan di rumah sakit tapi sepertinya hari ini orang tua saya berencana untuk berobat jalan aja. Luka fisiknya insya Allah bisa segera pulih, cuma harus rontgen di bagian kepala. Yang saya pikirkan saat ini adalah mengembalikan lagi mentalnya yang (sepertinya) sedang down. Saya paham betul yang dia rasakan dan pikirkan. Semoga ada hikmah dan nikmat yang bisa dia petik dari kejadian seperti ini. Mama udah mulai dalam kondisi tenang juga, setelah saya hubungi tadi, cuma mama ngga mau lihat ketika adik saya harus dijahit atau
"Adik gue yang super duper gue sayang. Kamu udah sadar betul kalau ternyata Allah sayang banget sama kamu, karena kamu masih selamat dan masih bisa menikmati dunia. Kamu udah sadar betul kalau ternyata banyak banget orang yang sayang dan perhatian sama kamu. Khusunya kakak, eca, mama dan papa. So, keep protecting yourself. Masih ingat mimpi-mimpi kita buat bikin mama papa bahagia, bangga, dan bersyukur karena punya kita? You'll always be in my prayer. Your success is in your hand."
Perbedaan usia yang hanya berjarak 3 tahun, membuat komunikasi diantara kami berdua benar-benar dalam keadaan super baik-baik banget. Ketika yang lain bercerita tentang tingkah laku adiknya yang suka bikin kesel sampe mau dipecat sebagai adik. Bersyukur banget deh punya adik yang karakternya macam gini. Berantem itu pasti pernah sekali dua kali, tapi seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia kita kayanya saya udah pernah ngerasain yang namanya berantem sama dia. Justru lebih banyak sharing, curhat ini itu. Ngobrol tentang target hidup. Namanya juga cowok, sebandel-bandelnya dia masih dalam batas kewajaran. Mungkin saya bukan tipe penasihat baik yang bisa menyusun kalimat indah buat adik-adik saya supaya mereka hidup di jalan yang benar. Saya terbiasa dengan tindakan apa yang sudah saya lakukan dan terbukti bahwa hal tersebut berhasil saya praktekan dalam hidup saya. Lakukan segala sesuatunya dengan caramu sendiri, saya tidak bisa memaksakan siapapun untuk menyelesaikan problemnya dengan cara saya. Karena Tuhan menciptakan umatnya berbeda-beda, saya percaya itu. Sekali lagi, terima kasih Ya Rabb karena telah mengirimkan mereka dalam kehidupan saya dan mempercayakan saya untuk menjaganya dan selalu mengingatkan saya untuk menjadi contoh yang baik untuk mereka, Rizky dan Reza.
"Hallo coooyy... iya ngga kenapa-kenapa ko.... cuma ada yang robek jadi harus dijahit ...makannya susah .... ngomong sama mama papa deh ya lagi susah ngomong...,"
| Akbar Rizky Fatullah |
Lalu telfon tersebut kembali ke mama lagi, dan lagi-lagi mama ngga mau cerita panjang lebar dulu karena takut nangis depan anaknya yang saya tangkap radarnya dari kejauhan sini, adik saya masih agak shock sama kecelakaan yang menimpanya, secara dia baru balik abis test psikotes di Pertamina. Sesampainya di kos, air mata saya udah ngga bisa lagi saya tahan karena saya panik. Saya panik dan belum bisa tenang. Saya menghubungi adik saya yang paling kecil, dia ada dirumah eyang karena dirumah udah ngga ada mbah yang biasanya jagain dia (saya kembali tersadar, bahwa mbah udah berada di dunia yang berbeda). Akhirnya saya menghubungi papa, kepanikan saya mulai menghilang setelah mendengar omongan papa. Bismillah, insya Allah adik saya baik-baik aja. Sekarang masih dalam pemulihan di rumah sakit tapi sepertinya hari ini orang tua saya berencana untuk berobat jalan aja. Luka fisiknya insya Allah bisa segera pulih, cuma harus rontgen di bagian kepala. Yang saya pikirkan saat ini adalah mengembalikan lagi mentalnya yang (sepertinya) sedang down. Saya paham betul yang dia rasakan dan pikirkan. Semoga ada hikmah dan nikmat yang bisa dia petik dari kejadian seperti ini. Mama udah mulai dalam kondisi tenang juga, setelah saya hubungi tadi, cuma mama ngga mau lihat ketika adik saya harus dijahit atau
"Adik gue yang super duper gue sayang. Kamu udah sadar betul kalau ternyata Allah sayang banget sama kamu, karena kamu masih selamat dan masih bisa menikmati dunia. Kamu udah sadar betul kalau ternyata banyak banget orang yang sayang dan perhatian sama kamu. Khusunya kakak, eca, mama dan papa. So, keep protecting yourself. Masih ingat mimpi-mimpi kita buat bikin mama papa bahagia, bangga, dan bersyukur karena punya kita? You'll always be in my prayer. Your success is in your hand."
Perbedaan usia yang hanya berjarak 3 tahun, membuat komunikasi diantara kami berdua benar-benar dalam keadaan super baik-baik banget. Ketika yang lain bercerita tentang tingkah laku adiknya yang suka bikin kesel sampe mau dipecat sebagai adik. Bersyukur banget deh punya adik yang karakternya macam gini. Berantem itu pasti pernah sekali dua kali, tapi seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia kita kayanya saya udah pernah ngerasain yang namanya berantem sama dia. Justru lebih banyak sharing, curhat ini itu. Ngobrol tentang target hidup. Namanya juga cowok, sebandel-bandelnya dia masih dalam batas kewajaran. Mungkin saya bukan tipe penasihat baik yang bisa menyusun kalimat indah buat adik-adik saya supaya mereka hidup di jalan yang benar. Saya terbiasa dengan tindakan apa yang sudah saya lakukan dan terbukti bahwa hal tersebut berhasil saya praktekan dalam hidup saya. Lakukan segala sesuatunya dengan caramu sendiri, saya tidak bisa memaksakan siapapun untuk menyelesaikan problemnya dengan cara saya. Karena Tuhan menciptakan umatnya berbeda-beda, saya percaya itu. Sekali lagi, terima kasih Ya Rabb karena telah mengirimkan mereka dalam kehidupan saya dan mempercayakan saya untuk menjaganya dan selalu mengingatkan saya untuk menjadi contoh yang baik untuk mereka, Rizky dan Reza.
No comments:
Post a Comment